Standar

Metode Pembuktian dengan Kontradiksi

Kontradiksi merupakan salah satu metode pembuktian tidak langsung. Misalkan kita akan membuktikan suatu pernyataan p bernilai benar. Pembuktian kita mulai dengan menganggap bahwa pernyataan q salah. Dengan kata lain, pernyataan ~p bernilai benar. Selanjutnya harus ditunjukkan bahwa ternyata pernyataan ~p bernilai salah. Jadi, penyataan p bernilai benar.

Contoh 1

Misalkan a adalah bilangan prima, b adalah bilangan bulat positif, dan b dapat dibagi oleh a. Buktikan bahwa b + 1 tidak dapat dibagi oleh a.

Misalkan a adalah bilangan prima, b adalah bilangan bulat positif, dan b dapat dibagi oleh a. Buktikan bahwa b + 1 tidak dapat dibagi oleh a.

Misalkan a adalah bilangan prima, b adalah bilangan bulat positif, dan b dapat dibagi oleh a. Buktikan bahwa b + 1 tidak dapat dibagi oleh a.

Bukti

Misalkan b + 1 dapat dibagi oleh a. Dengan kata lain, kita dapat menuliskan b+1=a.p, p ∈ Z . Diketahui bahwa b dapat dibagi oleh a sehingga kita peroleh b=a.q, q ∈ Z. Maka 1 = (b+1) – b = (a.p) – (a.q) = a(p-q), (p-q) ∈ Z

Kita peroleh 1 = a(p-q) yang berarti bahwa 1 dapat dibagi oleh a. Pernyataan tersebut bernilai salah. Karena asumsi bahwa b+1 dapat dibagi oleh a bernilai salah. Dengan kata lain, b+1 tidak dapat dibagi oleh a.

Contoh 2

Buktikan bahwa jika A dan B adalah himpunan sehingga (B ∩ A’ ) ∪ (B’ ∩ A) = B, maka A = ∅

Bukti

Misalkan A ≠ ∅ sehingga ada sesuatu x ∈ A ≠ ∅. Kita harus menunjukkan bahwa x berhubungan dengan B. Akan tetapi, kita tidak mengetahui apakah x ∈ B atau x ∉ B. Kita harus analisa dua kasus, yaitu:

(i) Misalkan x ∈ B maka x ∈ B ∩ A’ atau x ∈ B’ ∩ A karena (B ∩ A’) ∪ (B’ ∩ A) = B. Diketahui bahwa x ∉ B sehingga x ∉ B’ ∩ A. Jadi, x ∈ B ∩ A’ sehingga x ∈ A’. Karena x ∈ A dan x ∈ A’, maka x ∈ A ∩ A’ = ∅

(ii) Misalkan x ∈ B’ maka x ∈ B’ ∩ A karena x ∈ A. Perhatikan bahwa B’ ∩ A ⊆ (B ∩ A’) ∪ (B’ ∩ A) = B sehingga x ∈ B. Jadi, x ∈ B ∩ B’ = ∅.

Perhatikan bahwa (i) dan (ii) menunjukkan suatu kontradiksi. Dengan kata lain, pernyataan A ≠ ∅ bernilai salah sehingga A = ∅.

Standar

USTMAN BIN AFFAN
Makalah disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Imam Fu’adi, M.Ag

Disusun Oleh:
Kelompok 3 TMT II E
1. Moh. Roziq S (1724143159)
2. Mochamad Misbakhudin (1724143158)
3. Moh. Torikul Huda (1724143169)

JURUSAN TADRIS MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
TAHUN AKADEMIK 2014/2015

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Sejarah mencatat bahwa kehidupan pada masa jahiliyah yang identik dengan konflik dalam kontek berbagai aspek, termasuk politik, budaya, agama dan bahkan sosioal, tentu akan menjadi bahan perbandingan dengan zaman Khulafaur-Rasyiddin, keadaan tersebut masih mewarnaidalam pemerintahan Utsman bin Affan juga situasi itu masih berlangsung, terbukti wafatnya Utsman adalah dilatarbelakangi oleh konflik yang terjadi ketika itu.

Tragedi berdarah ini adalah salah satu contoh, dimana proses perkembangan kehidupan sosial, ketika memahami agama masih dalam tataran jahiliyah, namun keadan ini tentu akan mengantar pembahasan kita pada perjalanan kenegaraan pada masa pemerintahan khalifah.

Dalam hal ini ada beberapa konsekwensi logis yang mengantarkan kita pada latar belakang terpilihnya Utsman, walaupun telah diketahui bersama bahwa pengangkatan Utsman adalah atas campur tangan “Umar ” dan keadaan itulah yang menjadi embrio permasalah yang klimaknya tepat pada pemerintahan Utsman bin Affan.

A. Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah riwayat Utsman bin Affan?
  2. Bagaimanakah sejarah masuk Islamnya Utsman bin Affan?
  3. Bagaimanakah proses pengangkatan Utsman bin Affan?
  4. Bagaimanakah kebijakan-kebijakan Utsman bin Affan?
  5. Bagaimanakah terbunuhnya Utsman bin Affan?

B. Tujuan Penulisan

  1. Untuk mengetahui riwayat Utsman bin Affan.
  2. Untuk mengetahui sejarah masuk Islamnya Utsman bin Affan.
  3. Untuk mengetahui proses pengangkatan Utsman bin Affan.
  4. Untuk mengetahui kebijakan-kebijakan Utsman bin Affan.
  5. Untuk mengetahui bagaimana terbunuhnya Utsman bin Affan.


BAB II

PEMBAHASAN

  1. Riwayat Utsman bin Affan

Utsman termasuk orang yang pertama kali beriman, yang bergegas menuju seruan Allah, Rosulullah menikahkanya dengan Ruqayyah dan dikaruniai anak yang diberi nama Abdullah, ketika dia masih berusia enam tahun, kedua matanya di patuk ayam, lalu sakit kemudian meninggal.

Ruqayyah juga meninggal, karena itu Rasulullah saw. menikahkan Utsman dengan Ummi Kultsum yang kemudian meninggal juga. Rasulullah saw. bersabda, “Jika aku mempunyai putri ke tiga, niscaya aku menikahkanya dengan Utsman.”

Utsman bernama Affan bin Abul-‘Ash bin Umayah. Dia adalah salah seorang pembesar masyarakat jahiliyah dan berasal dari kabilah Quraisy yang terpandang. Affan adalah seorang pedagang. Profesi ini nyaris menewaskan dirinya dan putranya, yaitu Utsman.

Utsman diselamatkan Allah agar dia memiliki peran yang besar dalam dakwah Islam. Pada saat hijrah dialah yang pertama kali berhijrah. Jika ada tuntutan untuk berkorban, dialah yang paling awal menyerahkan diri dan hartanya. Jika terjadi perang, dialah tentara pemberani dan penunggang kuda yang mencari kematian Syahid.

Beliau salah seorang dari sepuluh yang diberitakan masuk surga dan salah anggota dari enam anggota Syura serta salah seorang dari ketiga orang kandidat khalifah dan akhirnya terpilih menjadi khalifah sesuai dengan kesepakatan dari kaum Muhajirin dan Anshar.

Selama pemerintahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab, Utsman menjadi pejabat yang amat dipercaya, yaitu sebagai anggota dewan inti yang selalu diminta pendapatnya tentang masalah-masalah kenegaraan, misalnya masalah pengangkata Umar sebagai pengganti Abu Bakar.

  1. Sejarah Masuk Islamnya Utsman bin Affan

Utsman berada di tempat yang jauh, yaitu dataran tinggi di Syam, untuk berdagang dan mencari rezeki. Keberangkatannya kali ini ditemani oleh sahabat dan temannya, yaitu Thalhah bin Ubaidillah r.a.. Keduanya berusaha di daerah tersebut dan mencari barang komoditi. Setelah lama berusaha dan berjuang mencari barang, keduanya kembali ke kebun yang saat itu dipenuhi dengan pepohonan (Mekah).

Utsman r.a.. bercerita,

“ketika kami berada antara tidur dan terjaga, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil kami, ‘Hai orang yang tidur, bangunlah karena Muhammad telah muncul di Mekah.”

Seruan itu terus terdengar berulang-ulang. Mereka menyimpan apa yang terdengar itu di dalam dirinya masing-masing dan tidak berupaya untuk memberitahukan apa yang didengarnya kepada temannya karena khawatir dia justru tidak mendengar apa pun. Keduanya mengubur seruan itu dalam ingatan masing-masing. Namun, seruan itu senantiasa berkecamuk pada siang hari dan membuatnya terjaga di malam hari sehingga keduannya tidak lagi mampu bertahan di Syam.

Keduanya mulai mengadakan persiapan untuk pulang ke Mekah. Masing-masing dilanda kerinduan dan keinginan untuk mengetahui hakikat bisikan yang didengarnya.

Belum lagi keduanya menginjakkan kedua kakinya di tanah Mekah dan sampai ke rumah yang aman, telinga keduanya mendengar aneka berita dan cerita yang menguatkan bisikan yang didengarnya ketika berada di dataran tinggi Syam.

Utsman r.a.. bercerita,

“Aku memegang tangan Thalhah, kemudian kami berangkat menemui Rasulullah saw.. Beliau menjelaskan Islam kepada kami, membacakan Al-Qur’an, menerangkan hak-hak Islam, dna menjanjikan kamu kemuliaan dari Allah Ta’ala.”

Utsman r.a. masuk Islam dan menyatakannya secara terang-terangan. Kaum Quraisy mendengar bahwa Utsman telah menjadi pengikut Rasulullah saw.. Para pemuka Mekah dan penduduknya yang tiran tidak mampu mencelakakan Utsman. Jika mereka mampu, tentu wajahnya telah babak belur dan pedang berseliweran. Bani Umayah tidak menoleransi tindakan Utsman. Karena itu, dia mesti mendapat pelajaran seperti halnya para pengikut Muhammad lainnya yang mengikuti ajarannya, yaitu ajarannya ketauhidan dan celaan terhadap keyakinan mereka kepada berhala.

  1. Proses Pengangkatan Utsman bin Affan Sebagai Khalifah

Pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, tepatnya saat beliau sakit dibentuklah dewan musyawarah yang terdiri dari Ali bin Abi Talib, Utsman bin Affan, Sa’ad bin Abi Waqas, Talhan bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurahman bin Auf. Salah seorang putra dari Umar, Abdullah ditambahkan pada komisi diatas. Dewan tersebut dikenal dengan sebutan Ahlul Halli wal Aqli dengan tugas pokok menentukan siapa yang layak menjadi penerus Khalifah Umar bin Khattab dalam pemerintahan umat Islam.

Kemudian Abdurrahman menemui masyarakat di berbagai penjuru Madinah dengan menyamar agar tidak seorangpun yang mengenalinya. Tiada seorangpun dari kalangan Muhajirin, Anshar, kaum dhu’afa, pengembala dan yang lainya, kecuali ditanya dan diminta pendapatnya. Orang yang berilmu di tanya pandanganya, sedangkan orang awam hanya di ajukan perrtanyaan siapa yang pantas kursi kekhalifahan setelah Umar? Tiada seorangpun yang di minta pandangan dan pendapat melainkan dia menjawab “Utsman”.

Abdurrahman mengumpulkan peserta forum musyawarah. Dia mengambil janji dan ikatan dari peserta bahwa jika Abdurrahman berjanji setia kepadanya, maka dia akan benar-benar menegakkan Kitab Allah, Sunnah Rosul-Nya, dan sunnah kedua sahabat (Abu Bakar dan Umar) sebelumya. Lalu masing-masing peserta memberikan janji dan ikatan untuk berbuat demikian kepada Abdurrahman.

Setelah melakukan pengambilan tehadap semua peserta, Abdurrahman memegang tangan Utsman seraya berkata, “Kamu wajib memegang janji kepada Allah dan ikatanya bahwa apabila aku berjanji ssetia kepadamu maka kamu akan benar-benar akan menegakan kitab Allah , Sunnah Rosul-Nya, dan sunah kedua sahabatmu. Umar menyarankan agar kamu tidak mengangkat siapapu dari Bani Umyah untuk memimpin manusia.” Dan utsman mengiyakanya. Pemilihan itu berlangsung pada bulan Zulhijah tahun 23 H atau 644 M dan dilantik pada awal muharram 24 H atau 644 M.[1]

  1. Kebijakan-Kebijakan Khalifah Utsman bin Affan

a) Perluasan wilayah

Setelah kahalifah Umar bin Khattab berpulang ke rahmatullah terhaap daerah-daerah yang membelot terhadap pemerintahan Islam. Pembelotan tersebut ditimbulkan pendukung-pendukung pemerintahan yang lama atau dengan perkataan lain pamong praja dari pemerintahan lama (pemerintahan sebelum daerah itu masuk ke daerah kekuasaan Islam) ingin hendak mengembalikan kekuasaan. Sebagai mana yang dilakukan oleh kaisar Yazdigard yang berusaha menghasut kembali masyarakat Persia agar melakukan perlawanan terhadap penguasa Islam. Akan tetapi dengan kekuatanya, pemerintahan Islam berhasil memusnahkan gerakan pemberontak sekaligus melanjutkan perluasan ke negeri-negeri Persia lainya, sehingga beberapa kota besar seperti Hisrof, Kabul, Gasna, Balkh dan Turkistan jatuh menjadi wilayah kekuasaan Islam.

Adapun daerah-daerah lain yang melakukan pembelotan terhadap pemerintahan Islam adalah Khurasan dan Iskandariah. Khalifah Utsman mengutus sa’ad in Al-Ash bersama Khuzaifah Ibnu Al-Yaman serta beberapa sahabat nabi lainya pergi ke negeri Khurasan dan sampai di Thabaristan dan terjadi peperangan hebat, sehingga penduduk mengaku kalah dan minta damai. Tahun 30 H/ 650 M pasukan muslimin berhasil menguasai khurasan.

Adapun tentang Iskandariah, bermula dari kedatangan Kaisar Konstan ll dari RomaTimur atau Bizantium yang menyerang Iskandariah dengan mendadak, sehingga pasukan Islam tidak dapat menguasai serangan. Panglima Abdullah bin Abi Sarrah yang menjidi wali di daerah tersebut meminta pada Khalifah Utsman untuk mengangkat kembali panglimaAmrunbin ‘Ash yang telah diberhentikn untuk menangani masalah di Iskandariah. Setelah itu terjadilah pemecahan dan menyebabkan tewasnya panglima di pihak lawan.

Di masa pemerintahan Utsman, negeri-negeri yang telah masuk ke dalam kekuasaan Islam antara lain: Barqah, Tripolo Barat, sebagian selatan Negri Nubah, Armeniadan beberapa bagian Thabaristan bahkan tentara Islam telah melampaui Sungai Jihun (Amu Daria), Negri Balkh (Baktria), Hara, Kabul dan Ghaznah di Turkistan.

b). Pembangunan Angkatan Laut

Pembangunan angkatan laut bermula dari adanya rencana khalifah Utsman untuk mengirim pasukan ke Afrika, Mesir, Cyprus dan Konstantinopel Cyiprus. Untuk sampai di daerah tersebut harus melalui lautan. Oleh karena itu, atas atas dasar usul gubernur di daerah Utsman pun menyetujui pembentukan Armada laut yang dilengkapi dengan personil dan sarana yang memadai. Sejak itu muawiyah berhasil menyerbu Romawi.

Mengenai pembangunan Armada itu sendiri, Muawiyah tidaklah membutuhkan tenaga asing sepenuhnya, karena bangsa Kopti, begitupun dengan penduduk Pantai Levant yang berdarah Punikiaitu, ramai-ramai menyediakan dirinya untuk membuat dan memperkuat armada tersebut, Itulah pembangunan armada yang pertama dalam sejarah dunia Islam.

Selain itu, keberangkatan pasukan ke Cyprus yang melalui lautan, juga mendesak umat Islam agar membangun armada angkatan laut. Pada saat itu pasukan di pimpin oleh Abdullah bin Qusay Al-Hariisi yang ditunjuk seagai panglima angkatan laut. Disamping itu, serangan yang dilakukan oleh pasukan romawi ke mesir melalui laut juga memaksa agar mendirikan angkatan laut bahkan pada tahun 646 M, bangsa romawi telah menduduki Alexandria dengan penyerangan ke laut. Penyerangan itu mengakibatkan jatuhnya mesir ketangan kekkuasaan bangsa romawi. Atas perintah Khalifah Utsman , Amr bin Ash dapat mengalahkan bala tentara bangsa romawi dengan armada laut yang besar pada tahun 651 M di Mesir.

c) Pendewanan Mushaf Usmani

Penyebaran Islam bertambah luas pada qari’ pun terbesar di berbagai daerah, sehingga perbedaan bacaan pun terjadi yang diakibatkan berbedanya qari’at dari qari’ yang sampa pada mereka, Sebagian orang muslim merasa puas karena perbedaan disandarkan pada Rasulullah SAW, Tetapi keadaan demikian bukan berarti tidak menimbulkan keraguan kepada generasi berikutnya yang tidak secara langsung bertemu Rosulullah.

Ketika terjadi perang di Armenia dan Azerbaijan dengan penduduk irak, diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat tersebut adalah Hudzaifah bin Aliaman. Ia melihat banyak perbedaan dalam cara membaca Al-Qur’an. Sebagai bacaan itu tercampur dengan kesalahan tetapi masing-masing berbekal dan mempertahankan bacaanya. Bahkan mereka saling mengafirkan. Melihat hal tersebut beliau melaporkanya kepada Khalifah Utsman. Para sahabat amat khawatir kalau perbedaa tersebut akan membawa perpecahan dan penyimpangan pada kaum Muslimin.

Selanjutnya Utsman mengirim surat pada haflah yang isinya, “kirimkanlah pada kami lembaran-lembaran yang bertuliskan Al-Qur’an, kami akan menyalinnya dalam bentuk mushaf dan setelah selesai kami akan mengembalikan kepada Anda”. Kemudian Hafsah mengirimkan kepada Utsman. Usman memerintahkan para sahabat untuk menyalin Mushaf yang telah dipinjam. Utsman mengembalikan Mushaf yang asli kepada Hafsah. Selanjutnya ia menyebarkan mushaf yang telah disalinnya ke seluruh daerah dan memerintahkan agar semua bentuk lembaran mushaf yang lain dibakar. Al-Mushaf ditulis lima buah, empat buah dikirimkan ke daerah-daerah Islam supaya disalin kembali dan supaya di pedomani, satu buah dismpan di madinah untuk Khalifah Utsman sendiri dan musaf ini disebut Musaf L-Imani dan di kenal dengan musaf Usmani.

  1. Terbunuhnya Utsman bin Affan

Para sejarawan tidak sepakat tentang motif langsung di balik pembunuhan Utsman atau identitas orang-orang yang menjalankannya. Ibn Qutaibah menceritakan bahwa orang-orang Mesir dan Kufah mengepung Utsman sebagai respon terhadap surat dari kaum Muhajirin yang menyerukan mereka meminta keadilan terhadap ‘Abd Allah ibn Sarh, yaitu gubernur Utsman di Mesir. Dalam uraian ini, orang-orang tersebut dipimpin oleh Al-Asytar, seorang pendukung setia dan kepercayaan ‘Ali dari Kufah. Utsman akhirnya menyetujui untuk mencopot Ibn Abi Sarh dan sebagai gantinya mengangkat Muhammad ibn Abu Bakr, yaitu anak tiri ‘Ali yang setia. Ditemani oleh sejumlah kaum Muhajirin dan Anshar, Muhammad ibn Abu Bakr dalam perjalanan untuk menjalankan tugas barunya ketika pembantu Utsman yang bergegas membawa surat berisi stempel tuannya terungkap. Surat itu memerintahkan ibn Abi Sarh agar membunuh Muhammad ibn Abu Bakr dan pengawalnya, dan agar ibn Abi Sarh tetap pada jabatannya. Ketika Utsman disodori surat tersebut, ia menolak mengakuinya. Akibatnya, masyarakat mencurigai Marwan ibn Al-Hakam telah memalsukan surat tersebut dan menuntut agar ia dimintai tanggung jawab dan dihukum. Utsman menolak dan pengepungan pun ditingkatkan.

Meskipun para pemuka Muhajirin dan Anshar marah atas apa yang terjadi, mereka memberikan sejumlah pengawal yang kuat kepada khalifah yang terkepung. Di antara para pengawal ini adalah Hasan ibn ‘Ali, ‘Abd Allah ibn Zubair, dan sahabat serta ahli hadis terkenal, Abu Hurairah. Ketika rumor bahwa tentara Suriah yang besar akan menyelamatkan Utsman, para pemberontak yang marah semakin berani dan berusaha memasang api di sekitar rumah Utsman. Ketika orang-orang ini masuk dan siap berperang, Utsman mundur dari hadangan mereka untuk membela diri karena ia tidak ingin menjadi sebab pertumpahan darah. Dalam kekacauan yang terjadi, Muhammad bin Abu Bakar memanjat dinding rumah Utsman dari rumah Amr bin Hazm bersama Kinanah bin Basyar bin Atab, Saudan bin Hamran, dan Amr bin al-Ahmaq. Mereka menjumpai Utsman tengah membaca surah al-Baqarah dari mushhaf di sisi istrinya, Na’ilah. Muhammad memegang janggut Utsman sambil berkata, “Mu’awiyah, si Fulan, dan si Fulan tidak lagi mampu menolongmu.

Akhirnya Muhammad melepaskan jambakannya, menjauhinya, lalu keluar. Lalu sejumlah orang tak dikenal dari kalangan pemberontak memaksa masuk rumah dan membunuh Utsman dengan kejam.


BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Utsman bin Affan adalah sahabat nabi dan juga khalifah ketiga dalam Khulafaur Rasyidin. Usman bin Affan lahir pada 574 Masehi dari golongan Bani Umayyah. Ia mendapat julukan Dzunnurain yang berarti yang memiliki dua cahaya. Julukan ini didapat karena Utsman telah menikahi puteri kedua dan ketiga dari Rasullah Saw yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum. Beliau masuk Islam atas ajakan Abu Bakar dan termasuk golongan Assabiqunal Awwalun.

Khalifah utsman dipilih dengan jalan musyawarah yang dilakukan oleh dewan syura yang dibentuk oleh khalifah Umar Bin Khattab. Adapun anggota dari dewan syura  yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah.

Pemerintahan khalifah Utsman bin Affan berlangsung selama 12 tahun, dibagi menjadi dua priode, enam tahun pertama merupakan pemerintahan yang bersih dari pengangkatan kerabat sebagai pejabat Negara.

Sedangkan priode kedua enam tahun terakhir merupakan priode pemerintahan yang tidak bersih dari pengangkatan kerabat sebagai pejabat Negara.

Beliau memiliki andil besar dalam perkembangan islam, salah satu buktinya adalah penyusunan Al-Quran hingga menjadi mushaf, yang sekarang di sebut mushaf utsman

Beliau wafat pada bulan Dzulhijjah tahun 35 H dimana beliau dibunuh oelh kaum bughat dalam usia 82 tahun setelah menjabat sebagai Khalifah selama 12 tahun. Beliau dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah Utsman terbunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri atas orang-orang yang kecewa terhadapnya.

Daftar Pustaka

Ayub M. 2003. The crisis Of Muslim History. Bandung: PT Mizan Pustaka.

Umairah Abdurrahman. 2002. Tokoh-tokoh Yang Diabadikan AL-QUR’AN. Jakarta: PT Gema Insani Press.

[1] Abdurrahman umairah, Tokoh-tokoh yang Diabadikan AL-QUR’AN,(Jakarta :Gama Insani Press, 2002),95.

Halo dunia!

Standar

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika Anda menyukai, gunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengapa Anda memulai blog ini dan apa rencana Anda dengan blog ini.

Selamat blogging!